ALKALOID
ASAL USUL ALKALOID
Enzim yang terlibat dalam proses metabolisme tersebut sama, tetapi memberikan efek yang berbeda. mengapa demikian ??
selain itu mengapa enzim tersebut dapat menyebabkan efek negatif??
adakah upaya untuk mencegah terjadinya efek negatif tersebut??
Alkaloid adalah segolongan senyawa organik bernitrogen yang
berasal dari tumbuhan dan memiliki berbagai sifat farmakologi. Alkaloid
meliputi morfin, kokain, atropine, kinin, kafein yang kebanyakan digunakan
dalam obat-obatan sebagai analgesik atau anastetik. Ada juga alkaloid beracun
misalnya striknin, koniin, kolkisin yang dapat menghambat pembelahan sel
.
Istilah "alkaloid"
(berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa) pertama
kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner(1819), seorang apoteker
dari Halle (Jerman) untuk menyebut berbagai senyawa yang diperoleh
dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal,
misalnya, morfina, striknina, serta solanina). Hingga sekarang
dikenal sekitar 10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur sangat
beragam, sehingga hingga sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya.
Isolasi Alkaloid
Alkaloid dapat diisolasi melalui metode ekstraksi
antara lain :
1.
Soxhletasi
Soxhlet merupakan ekstraksi dengan pelarut yang
selalu baru, umumnya dilakukan menggunakan alat khusus sehingga terjadi
ekstraksi konstan dengan adanya pendingin balik (kondensor). Disini sampel
disimpan dalam alat soxhlet dan tidak dicampur langsung dengan pelarut dalam
wadah yang di panaskan, yang dipanaskan hanyalah pelarutnya, pelarut
terdinginkan dalam kondensor dan pelarut dingin inilah yang selanjutnya
mengekstraksi sampel.
Prinsip soxhletasi :
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara
serbuk simplisia ditempatkan dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring
sedemikian rupa, cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga
menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan
penyari yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan
jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun
kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi.
Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak tampak
noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Ekstrak yang
diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
Keuntungan metode ini adalah :
a.Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang
lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung.
b. Digunakan pelarut yang lebih sedikit
c. Pemanasannya dapat diatur
Kerugian metode ini adalah:
a. Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang
terkumpul pada wadah di sebelah bawah terus-menerus dipanaskan sehingga dapat
menyebabkan reaksi peruraian oleh panas.
b. Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi
akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap
dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya.
c. Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak
cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi, seperti
metanol atau air, karena seluruh alat yang berada di bawah kondensor perlu
berada pada temperatur ini untuk pergerakan uap pelarut yang efektif.
2. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada
temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut yang
relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Ekstraksi refluks digunakan
untuk mengektraksi bahan-bahan yang tahan terhadap pemanasan.
Prinsip refluks:
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara
sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari
lalu dipanaskan, uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola
menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas
bulat, akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian
seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna,
penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang
diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
Keuntungan metode ini adalah :
Digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang
mempunyai tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung.
Kerugian metode ini adalah :
Membutuhkan volume total pelarut yang besar dan
sejumlah manipulasi dari operator.
BIOAKTIVITAS ALKALOID
Setiap dari masing masing golongan alkaloid memiliki
bioaktifitas sendiri-sendiri. Untuk mengenal lebih jauh maka di bawah ini akan
dipaparkan secara singkat dan jelas bioaktifitas dari masing-masing alkaloid
secara lebih jauh.
1.Bioaktifitas
Golongan Piridin
Secara luas
piridin digunakan sebagai pelarut. Piridin bersifat polar tetapi aprotik.
Piridine larut dalam sebagian besar larutan termasuk heksan dan air. Piridin
yang terdestilasi yang disebut dengan piridin-d5 adalah pelarut
yang sesuai untuk 1H NMR spektroskopi.
2.Piperin
Piperin
ditemukan pada CYP3A4 dan P-glycoprotein, enzyme yang penting pada metabolisme
dan transport dari xenobiotik dan metabolit. Pada penelitian pada hewan piperin
juga inhibitor enzym yang lain pada proses metabolisme tubuh. Dengan menjadi
inhibitor maka piperin meningkatkan bioavailabilitas dari beberapa komponen
misalnya pada kurkumin.
Piperin juga
ditemukan dapat menstimulasi proses pigmentasi pada kulit. Berdasarkan pada
efeknya pada metabolisme obat, piperin harus diberikan secara hati-hati pada
proses medikasi.
3.
Trigonelin
Trigonelin
biasanya terdapat pada kopi yang dapat mencegah mutasi bakteri Streptococcos
melekat pada gigi.
4.
Pilokarpin
Pilokarpin
digunakan dalam terapi open-angle glaucoma dan angle-closure glaukoma akut yang
lebih dari 100 tahun. Efek kerja dari pilokarpin terjadi pada Muskarinik
Reseptor M3 yang ditemukan pada otot iris mata yang bisa menyebabkan mata
berkontraksi dan terjadilah miosis. Hal ini menyebabkan terbukanya lbang mata
dan meningkatkan ketegangan pada otot mata. Proses inilah yang menyebabkan
aqueous humor keluar dari mata untuk menurunkan tegangan intraokular.
Pilokarpin
juga digunakan untuk mengobati mulut kering ( xerostomia) misalnya akibat dari
terapi radiasi pada kanker kepala dan leher. Pilocarpin dapat menstimulasi
sekresi air liur. Pilokarpin juga dapat digunakan untuk menstimulasi kelenjar
keringat pada uji keringat saat mengukur konsentrasi dari kloride dan
natrium yang terekskresi melalui keringat yang digunakan untuk mendiagnosa
cystic fibrosis (CF).
5. Sistin
Sistin
adalah reseptor agonis nikotinik asetilkolin dan sebagai pengobatan terhadap
preparasi farmasetik dalam upaya pengobatan untuk pecandu nikotin. Derifatif
dari sistin yaitu vareniklin telah dikembangkan sebagai obat penghenti merokok.
Tanaman yang
mengandung sistin memiliki efek positif diantaranya adalah rendah toksik tetapi
juga memilki efek samping yaitu mual, muntah, sakit hati, sakit kepala dan pada
dosis tingg menyebabkan kematian akibat dari kegagalan pernapasan.
6. Nikotin
Nikotin bisa
digunakan sebagai salah satu terapi pengobatan bagi pecandu rokok. Untuk
mengkontrol penggunaan nikorin sebagai pengobatan pada pasien biasanya nikotin
diberikan dalam bentuk permen, patch, tablet hisap atau semprot hidung.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nikotin juga bisa digunakan sebagai salah
satu pengobatan terhadap epilepsi.
Nikotin dan
metabolitnya sedang diteliti kemampuannya sebagai terapi untuk penyakit
kejiwaan misalnya ADHD, Schizophrenia dan penyakit Parkinson. Penderita
Schizophrenia bisa merokok dua sampai tiga kali lebih sering dari perokok tanpa
gangguan mental, hal ini merupakan bentuk swa-medikasi untuk meningkatkan
perhatian dan meningkatkan daya ingatnya.
Sumber Kafein
Kafein ialah senyawa kimia yang dijumpai secara alami di didalam makanan
contohnya biji kopi, teh, biji kelapa, buah kola (cola nitide) guarana, danmate.
Teh adalah sumber kafein yang lain, dan mengandung setengah dari kafein yang
dikandung kopi. Beberapa tipe teh yaitu teh hitam mengandung lebih banyak
kafein dibandingkan jenis teh yang lain. Teh mengandung sedikit jumlah teobromine dan
sedikit lebih tinggi theophyline dari kopi.
Kafein juga merupakan bahan yang dipakai untuk ramuan minuman non alkohol
seperti cola, yang semula dibuat dari kacang kola. Soft drinkskhususnya
terdiri dari 10-50 miligram kafein. Coklat terbuat dari kokoa mengandung
sedikit kafein seperti terlihat pada tabel 2.1. Efek stimulan yang lemah dari
coklat dapat merupakan
kombinasi dari theobromine dantheophyline sebagai
kafein (Casal etal.2000).
Kafein dalam Tubuh
Kafein memiliki efek yang beragam pada setiap individu. Beberapa individu
akan merasakan efek secara langsung, sedangkan yang lain tidak merasakan efek
sama sekali. Hal ini terkait dengan sifat genetika yang dimiliki oleh
masing-masing individu terkait kemampuan metabolisme tubuh dalam mencerna
kafein. Individu yang memiliki tipe enzim isozim tipe tertentu mampu
memetabolisme kafein secara cepat dan efektif sehingga kafein dapat segera
dirasakan manfaatnya. Tidak demikian pada individu dengan enzim isozim tipe
lainnya, laju metabolisme kafein cenderung lambat sehingga efek dari kafein
yang dikonsumsi tidak dirasakan atau cenderung berefek negatif.
Kafein yang sudah mengalami metabolisme akan menghasilkan tiga metabolit
dimetilxantin, yaitu:
1. Paraxanthine (84%) : meningkatkan lipolisis, sehingga kadar gliserol dan
asam lemak dalam plasma darah bertambah. Inilah yang menyebabkan energi tubuh
seseorang meningkat setelah minum kafein.
2. Theobromine (12%) : meningkatkan dilatasi pembuluh darah (aliran darah
semakin cepat) dan meningkatkan volume urine (efek diuretik).
3. Teofilin (4%) : melemaskan otot-otot polos dari bronki.
Ketiga metabolit tersebut selanjutnya dimetabolisme dan kemudian
dikeluarkan tubuh melalui urin. Meskipun demikian, kemampuan tubuh untuk
mengeluarkan hasil metabolit (waktu paruh) tersebut bervariasi pada setiap
individu, tergantung usia, fungsi hati, kehamilan, konsumsi obat, dan
konsentrasi enzim dalam hati. Pada orang dewasa sehat, waktu paruh kafein
sekitar 4,9 jam. Pada wanita hamil, waktu paruhnya meningkat menjadi 9-11 jam.
Pada wanita yang mengonsumsi pil KB waktu paruhnya adalah 5-10 jam. Pada bayi
dan remaja waktu paruh lebih lama dibanding orang dewasa, pada bayi yang baru
lahir mencapai 30 jam. Kafein dapat berakumulasi pada individu dengan kerusakan
hati yang berat, waktu paruhnya meningkat hingga 96 jam.
Efek jangka Pendek Kafein
Mencapai jaringan dalam waktu 5 (lima) menit dan tahap puncak mencapai
darah dalam waktu 50 menit, frekuensi pernafasan ; urin, asam lemak dalam darah
; asam lambung bertambah disertai peningkatan tekanan darah. Kafein juga dapat
merangsang otak (7,5-150 mg) dapat meningkatkan aktifitas neural dalam otak
serta mengurangi keletihan), dan dapat memperlambat waktu tidur (Drug Facts
Comparisons, 2001)
Efek Jangka panjang Kafein
Pemakaian lebih dari 650mg dapat menyebabkan insomnia kronik, gelisah, dan
ulkus. Efek lain dapat meningkatkan denyut jantung dan berisiko terhadap
penumpukan kolesterol, menyebabkan kecacatan pada anak yang dilahirkan (Hoeger,
Turner, and Hafen, 2002).
Efek Konsumsi Kafein Terhadap Kesehatan
batas konsumsi kafein maksimum adalah 150 mg/hari dibagi minimal dalam 3
dosis. Kopi dapat mengandung 50-200 mg kafein per cangkir tergantung
penyeduhan. Untuk teh dapat mengandung 40-100 mg kafein per cangkir. Jika
individu mengonsumsi kopi dan minuman lain yang mengandung kafein pada hari
yang sama, maka individu tersebut dapat mengonsumsi kafein melebihi dosis yang
direkomendasikan sehingga dapat menimbulkan risiko terjadinya efek keracunan
kafein yang bersifat akut.
Berdasarkan tingkat keparahan, keracunan kafein dibagi menjadi 3 tingkat.
Pada tingkat ringan, keracunan kafein menimbulkan gejala mual dan selalu
terjaga. Keracunan kafein tingkat sedang menyebabkan gelisah, tremor, agitasi,
takikardia, hipertensi, dan muntah. Sedangkan keracunan kafein tingkat berat
menyebabkan muntah (parah, berkepanjangan), hematemesis, hipotensi, jantung
disritmia, hipertonisitas, myoklonus (otot berkedut), kejang, hiperglikemia,
asidosis metabolik, dan alkalosis respiratorik.
Dosis letal kafein secara oral adalah 10 gram (150-200 mg/kg), meskipun dilaporkan
terdapat individu yang mampu bertahan setelah menelan 24 g kafein. Pada
anak-anak menelan 35 mg/kg kafein dapat menyebabkan keracunan tingkat sedang.
Berdasarkan jangka waktu konsumsi, konsumsi kafein sekali minum dalam
jumlah melebihi takarannya dapat menimbulkan keracunan akut seperti rasa sangat
gelisah, halusinasi, kejang, denyut jantung lebih cepat, tekanan darah tinggi,
demam, tidak tenang, dan murung. Konsumsi kafein secara terus-menerus pada
orang dewasa dapat menyebabkan keracunan kronis berupa kafeinsm dengan gejala
gugup, cemas, gelisah, insomnia, tremor, palpitasi, dan hiperefleksia.
Banyak orang beranggapan bahwa mengonsumsi kafein setelah minum alkohol
dapat mengurangi efek mengantuk/ mabuk dikarenakan efek stimulan dari minuman
berenergi mampu mengurangi efek depresan dari alkohol. Namun hal itu tidaklah
benar, konsumsi kafein bersamaan dengan alkohol justru dapat memperburuk
kondisi. Kafein tidak mengurangi kadar alkohol dalam tubuh, sehingga apabila
efek terjaga/waspada dari kafein hilang, efek mengantuk dari alkohol akan tetap
ada .
Skrining fitokimia atau penapisan kimia adalah tahapan awal untuk
mengidentifikasi kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, karena pada
tahap ini kita bisa mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung tumbuhan
yang sedang kita uji/teliti.
Uji skrining fitokimia senyawa golongan alkaloid dilakukan
dengan menggunakan metode Culvenor dan Fitzgerald.
Bahan tanaman segar sebanyak
5-10 gram diekstraksi dengan kloroform beramonia lalu disaring. Selanjutnya ke
dalam filtrat ditambahkan 0,5-1 ml asam sulfat 2N dan dikocok sampai terbentuk
dua lapisan. Lapisan asam (atas) dipipet dan dimasukkan ke dalam tiga buah
tabung reaksi. Ke dalam tabung reaksi yang pertama ditambahkan dua tetes
pereaksi Mayer. Ke dalam tabung reaksi kedua ditambahkan dua tetes pereaksi
Dragendorf dan ke dalam tabung reaksi yang ketiga dimasukkan dua tetes pereaksi
Wagener. Adanya senyawa alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan putih
pada tabung reaksi yang pertama dan timbulnya endapan berwarna coklat kemerahan
pada tabung reaksi kedua dan ketiga.
Pembuatan larutan kloroform
beramonia, dapat dilakukan dengan cara mengambil sebanyak 1 ml amonia pekat 28%
ditambahkan ke dalam 250 ml kloroform. Kemudian dikeringkan dengan penambahan
2,5 gram Natrium sulfat anhidrat dan disaring.
Pembuatan larutan Mayer
dilakukan dengan cara mengambil HgCl2 sebanyak 1,5 gram dilarutkan dengan 60 ml
akuades. Di tempat lain dilarutkan KI sebanyak 5 gram dalam 10 ml akuades.
Kedua larutan yang telah dibuat tersebut kemudian dicampur dan diencerkan dengan
akuades sampai volume 100 ml. pereaksi Mayer yang diperoleh selanjutnya
disimpan dalam botol gelap.
Pembuatan pereaksi Dragendorf
dilakukan dengan mencampur Bismuth subnitrat sebanyak 1 gram dilarutkan dalam
campuran 10 ml asam asetat glasial dan 40 ml akuades. Di tempat lain 8 gram KI
dilarutkan dalam 20 ml akuades. Kedua larutan yang telah dibuat dicampur
kemudian diencerkan dengan akuades sampai volumenya 100 ml. pereaksi Dragendorf
ini harus disimpan dalam botol yang berwarna gelap dan hanya dapat digunakan
selama periode beberapa minggu setelah dibuat.
Pembuatan pereaksi Wagner,
dilakukan dengan cara mengambil senyawa KI sebanyak
2 gram dan iodine sebanyak 1,3 gram kemudia dilarutkan dengan akuades sampai volumenya 100 ml kemudian disaring. Pereaksi Wagner ini juga harus disimpan dalam botol yang gelap.
2 gram dan iodine sebanyak 1,3 gram kemudia dilarutkan dengan akuades sampai volumenya 100 ml kemudian disaring. Pereaksi Wagner ini juga harus disimpan dalam botol yang gelap.
PERMASALAHAN
1. Secara luas piridin digunakan sebagai pelarut. Piridin bersifat polar tetapi aprotik. Mengapa demikian ?
2. Kandungan kafein dalam kopi memiliki efek yang beragam pada setiap
manusia. Beberapa orang akan mengalami efeknya secara langsung, sedangkan
orang lain tidak merasakannya sama sekali. Hal ini terkait dengan sifat
genetika yang dimiliki masing-masing individu terkait dengan kemampuan metabolisme
tubuh dalam mencerna kafein. Metabolisme kafein terjadi dengan bantuan
enzim sitokrom P450 1A2 (CYP1A2).Orang yang memiliki enzim CYP1A2-1 mampu
mematabolisme kafein dengan cepat dan efisien sehingga efek dari kafein dapat
dirasakan secara nyata. Enzim CYP1A2-2 memiliki laju metabolisme kafein yang
lambat sehingga kebanyakan orang dengan tipe ini tidak merasakan efek kesehatan
dari kafein dan bahkan cenderung menimbulkan efek yang negatif.
Enzim yang terlibat dalam proses metabolisme tersebut sama, tetapi memberikan efek yang berbeda. mengapa demikian ??
selain itu mengapa enzim tersebut dapat menyebabkan efek negatif??
adakah upaya untuk mencegah terjadinya efek negatif tersebut??

Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang kedua:
BalasHapusManusia memiliki respon yang beragam terhadap kafein yang dikonsumsi. Respon yang diberikan bisa secara langsung dirasakan ketika meminum kopi maupun respon yang lambat sehingga terkadang tidak dirasakan sama sekali bagi tubuh tergantung dari reaksi oksidasi di dalam tubuh setiap orang.
Reaksi oksidasi dalam sistem hidup sangat penting. Khususnya, mekanisme transport gas oksigen oleh hemoglobin dan oksidasi mono-oksigen oleh senyawa besi-porfirin yang disebut P-450. Banyak obat,polutan , dan karsinogen kimia (xenobiotik) dimetabolisme oleh enzim-enzim, yang disebut dengan sitokrom P450.
SIFAT-SIFAT SITOKROM P450 MANUSIA
1. Terlibat dalam metabolism xenobiotik fase I(50% dari obat-obatan)
2. Terlibat dalam metabolism senyawa endogen(steroid)
3. Semua sitokrom p450 adalah hemoprotein
4. Bekerja pada banyak senyawa
5. Merupakan katalisator (mengkatalisasi 60 tipe reaksi
6. Produk hidoksilasinya lebih larut dalam air daripada substratnya
7. Pada beberapa keadaan produknya bersifat mutagenic/karsiogenik
8. Mempy massa molekul sekitar 55 kDa
9. Dapat diinduksi -->salah satu penyebab interaksi obat
FUNGSI SITOKROM P450 SECARA NORMAL
1. Hidroksilasi /penguraian obat di dalam tubuh
Mengkatalisis reaksi hidroksilasi steroid ( mitokondria)
Sistem ini ditemukan pada jaringan steroiddogenik ( korteks adrenal, testis, ovarium dan plasenta ) serta berhubungan dengan biosistesis hormone steroid dan kolesterol
11 beta dan 18, sistemrenal mengkatalisis 1 alfa dan 24 hidroksilasi senyawa 25 hidroksikolekalsiferol
2. Menghidroksilasikan zat-zat senobiotik/melindungi tubuh terhadap kerusakan akibat radikal bebas.
APABILA PROTEIN SITOKROM P450 TIDAK BERFUNGSI BAIK AKAN TERJADI
1. Gangguan interaksi obat di dalam tubuh
2. Penurunan sistesis kortisolHiperplasi adrenal bawaan bentuk hipertensif ( beta 11 hidroksilase)
3. Rakhitis ( 25 hidroksikolekalsiferol)
4. Kekurangan pembentukan aldosteron, tetapi tidak ada gangguan sintesis kortisol dan hormone kelamin ( 18 )
5. Radikal bebas superoksida dapat menyebabkan keracunan oksigen,
6. Cidera sel
7. Kanker
Jadi, menurut saya selain yang menyebabkan dampak negatif pada tubuh itu adalah mengkonsumsi kafein secara berlebihan diatas batas normalnya, pengaruh sitokrom P450 yang tidak berfungsi dengan baik juga dapat menyebabkan efek negatif , kenapa ? karena walaupun kafein yang dikonsumsi masih pada batas normal namun enzimnya tidak berfungsi dengan baik maka juga dapat menyebabkan dampak yang negatif.
Saya akan menjawab permasalahan 1. Pengertian dari polar protik dan aprotik adalah Protik menunjukkan atom hidrogen yang menyerang atom elektronegatif yang dalam hal ini adalah oksigen. Dengan kata lain pelarut protik polar adalah senyawa yang memiliki rumus umum ROH. Contoh dari pelarut protik polar ini adalah air H2O, metanol CH3OH, dan asam asetat (CH3COOH).
BalasHapusAprotik menunjukkan molekul yang tidak mengandung ikatan O-H. Pelarut dalam kategori ini, semuanya memiliki ikatan yang memilki ikatan dipol besar. Biasanya ikatannya merupakan ikatan ganda antara karbon dengan oksigen atau nitorgen. Contoh dari pelarut yang termasuk kategori ini adalah aseton [(CH3)2C=O] dan etil asetat (CH3CO2CH2CH3).
Saya akan menajwab permasalahan yang kedua Piridin bersifat polar tetapi aprotik. Piridine larut dalam sebagian besar larutan termasuk heksan dan air. Piridin yang terdestilasi yang disebut dengan piridin-d5 adalah pelarut yang sesuai untuk 1H NMR spektroskopi.
BalasHapusPelarut protik dapat terprotonasi atau terdeprotonasi. Protonasi dan deprotonasi tergantung dari sifat keasaman dan kebasaan solut dan solven yang digunakan. Solut ataupun solven yang kurang asam akan berperan sebagai basa. Sebagai contoh asam klorit, HOClO akan berperan sebagai asam bronsted kuat dalam pelarut basa, sebagai asam lemah pada pelarut air sedangkan pada pelarut H2SO4 berperan sebagai basa
No 1
BalasHapusItu sering disebut dengan Bioaktifitas Golongan Piridin
Secara luas piridin digunakan sebagai pelarut. Piridin bersifat polar tetapi aprotik. Piridine larut dalam sebagian besar larutan termasuk heksan dan air. Piridin yang terdestilasi yang disebut dengan piridin-d5 adalah pelarut yang sesuai untuk 1H NMR spektroskopi.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan ke- 2 Pelarut protik dapat terprotonasi atau terdeprotonasi. Protonasi dan deprotonasi tergantung dari sifat keasaman dan kebasaan solut dan solven yang digunakan. Solut ataupun solven yang kurang asam akan berperan sebagai basa. Sebagai contoh asam klorit, HOClO akan berperan sebagai asam bronsted kuat dalam pelarut basa, sebagai asam lemah pada pelarut air sedangkan pada pelarut H2SO4 berperan sebagai basa
BalasHapusDari nomor 1.
BalasHapusPolar Aprotik artinya molekul yang tidak mengandung ikatan O-H. Pelarut dalam kategori ini, semuanya memiliki ikatan yang memilki ikatan dipol besar. Biasanya ikatannya merupakan ikatan ganda antara karbon dengan oksigen atau nitorgen. Contoh dari pelarut yang termasuk kategori ini adalah aseton dan etil asetat.